December 11, 2018

Prudent, Optimistis, Fokus

BANYAK berita menggembirakan beberapa minggu terakhir ini mengenai kinerja perekonomian nasional. Di antaranya kurs rupiah yang kian kuat, target pajak yang terlampaui, inflasi yang terkendali, serta pertumbuhan […]
December 3, 2018

Fleksibilitas Strategi

DINAMIKA lingkungan terus terjadi dan berjalan sangat cepat. Sensitivitas juga kian cepat menjalar pada saat beberapa negara adidaya melakukan hal-hal yang sulit diprediksi. Perubahan iklim perekonomian global […]
November 28, 2018

Creative Destruction

ISTILAH Creative destructionini ditelurkan oleh ekonom berkebangsaan Austria Joseph A Schumpeter medio 1940-an. Pengertian awalnya merujuk gagasan perlunya seorang kapitalis untuk melakukan destruksi (pengrusakan) yang membangun. Pada […]
November 22, 2018

Defisit, ICOR, dan Daya Saing

SETELAH mendengarkan press release terbaru dari BPS, penulis merasa gusar mengapa kita kembali mengalami defisit perdagangan pada Oktober kemarin? Nilai defisit perdagangan kita tidak tanggung-tanggung hingga mencapai USD1,82 miliar. […]
November 16, 2018

Edukasi dan Blusukan Pajak

TAMPAKNYA satu per satu kebijakan mulai dirilis untuk mengejar tercapainya target APBN 2019. Kali ini gagasan yang mulai dipublikasi pemerintah adalah mengenai agenda perpajakan. Mengingat pentingnya perpajakan […]
November 16, 2018

APBN 2019, Negara Hadir?

Berkat beberapa kejadian yang menyinggung isu sosial dan politik, hingar-bingar sosialisasi APBN 2019 nyaris tidak terlalu terdengar. Padahal, ada ihwal yang menarik di dalamnya. Misalnya terkait […]

Writer’s bio


C Candra Fajri Ananda dilahirkan di Lumajang pada 29 oktober 1964. Dari kota pisang yang berlokasi di bagian selatan Jawa Timur ini, Candra kecil menghabiskan masa kanak - kanak sampai remaja di Kota Pisang ini. Malang sebagai kota pendidikan menjadi kota destinasi berikutnya bagi Candra untuk menempuh pendidikan sarjana, tepatnya di Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.

Berbekal gelar sarjana dan pengalaman menjadi tenaga lapang (field worker) mendorong Candra untuk terus belajar dan membangun hubungan - hubungan ilmiah dengan para ekonom muda saat itu, baik yang ada di Universitas Indonesia maupun di Universitas Gajah Muda.